Berikut ini adalah versi HTML dari berkas https://info.perbanasinstitute.ac.id/makalah/K-AKPM06.pdf?PHPSESSID=46879918bfd393dab2cf77eafa767616.G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
Page 1
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
1
ANALISA KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI DAN EKONOMI
MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA SAHAM SYARIAH
DI BURSA EFEK JAKARTA
Robiatul Auliyah
Ardi Hamzah
Universitas Trunojoyo
ABSTRACT
The purpose of this study are to know effect variables of firm characteristic, industry
and macro economic on return and beta of syariah stock. The sample of the study are firms
listed in Jakarta Islamic Index in 2001 – 2005. Sample total is 150 firm sample. The result of
study with F test between all variable with return of syariah stock indicate that all variable at
level 5% no significant effect on syariah stock return, while with beta of syariah stock indicate
that all variable at level 5% significant effect on syariah stock beta.
The result of study with t-test between variables of firm characteristic, industry and
macro economic with return of stock syariah indicate that nothing variables at level 5%
significant effect on syariah stock return, while with beta of syariah stock indicate that
cyclicality, rupiah exchange value on dollar and gross domestic bruto at level 5% significant
effect on syariah stock beta.
Keyword: firm characteristic, industry, macro economy, return and beta of syariah stock
K-AKPM 06
Page 2
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
2
PENDAHULUAN
Perkembangan pasar modal syariah menunjukkan kemajuan seiring dengan
meningkatnya indeks yang ditunjukkan dalam Jakarta Islamic Index. (JII). Peningkatan
indeks pada JII walaupun nilainya tidak sebesar pada Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) tetapi kenaikan secara prosentase indeks pada JII lebih besar dari IHSG. Hal ini
dikarenakan adanya konsep halal, berkah dan bertambah pada pasar modal syariah yang
memperdagangkan saham syariah. Pasar modal syariah menggunakan prinsip, prosedur,
asumsi, instrumentasi, dan aplikasi bersumber dari nilai epistemologi Islam.
Perdagangan beberapa jenis sekuritas, baik pada pasar modal konvensional
maupun pasar modal syariah mempunyai tingkat return dan risiko yang berbeda. Saham
merupakan salah satu sekuritas diantara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai
tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi tercermin dari ketidakpastian return yang akan
diterima oleh investor di masa datang. Hal ini sejalan dengan definisi investasi menurut
Sharpe bahwa investasi merupakan komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk
mendapatkan return yang tidak pasti di masa depan. Dengan demikian, ada dua aspek
yang melekat dalam suatu investasi, yaitu return yang diharapkan dan risiko tidak
tercapainya return yang diharapkan. Return dan risiko secara teoritis pada berbagai
sekuritas mempunyai hubungan yang positif. Semakin besar return yang diharapkan
diterima, maka semakin besar risiko yang akan diperoleh, begitu pula sebaliknya.
Return dan risiko yang tinggi pada saham berhubungan dengan kondisi karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro.
Return dari sekuritas merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh
investor dalam bentuk kenaikan atau penurunan nilai saham dan dividen. Risiko dari
sekuritas berupa risiko spesifik dan risiko sistematik. Risiko spesifik dapat dihilangkan
dengan membentuk portofolio yang baik. Risiko sistematik tidak dapat dihilangkan
dengan membentuk portofolio yang baik, dikarenakan risiko tersebut terjadi di luar
perusahaan. Risiko sistematik juga disebut dengan beta karena beta merupakan
pengukur dari risiko sistematik. Untuk mengukur risiko digunakan koefisien beta. Beta
suatu sekuritas merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau
portofolio. Beta suatu sekuritas menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu
sekuritas terhadap perubahan-perubahan pasar.
K-AKPM 06
Page 3
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
3
Penelitian dengan obyek pasar modal syariah khususnya di Indonesia tidak
banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Beberapa penelitian dengan obyek
pasar modal syariah dilakukan oleh Aruzzi dan Bandi (2003) serta Hamzah (2005).
Penelitian dengan obyek pasar modal syariah mengenai return dan beta yang
dipengaruhi oleh variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi
makro merupakan hal yang menarik untuk dilakukan karena sifat dari return dan risiko
ini yang akan selalu melekat pada setiap investasi terutama investasi dalam setiap
saham, baik saham biasa maupun saham yang sesuai dengan kaidah syariah. Penelitian-
penelitian sebelumnya hanya melihat pengaruh variabel-variabel makro dan
karakteristik perusahaan pada return atau beta saham biasa serta obyeknya pada pasar
modal secara umum seperti yang dilakukan oleh Beaver, Kettler dan Scholes (1970),
Rober G (1979), Chung (1989), Elger (1980), Gudono dan Nurhayati (2001), Hamada
(1972), Husnan (1994), Kapoor (1997), Lantara (2004), Mahadwartha (2001),
Miswanto dan Husnan (1999), Natarsyah (2000), Setiawan (2004), Suciwati dan
Mas’ud (2002), Supriyadi (2001), Sufiyati dan Na’im (1998) serta Tandelilin (1997).
Berdasarkan hal tersebut, maka menarik untuk diteliti kembali variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro dengan menggunakan return dan
beta saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Penelitian ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel karakteristik perusahaan
(earning per share, dividend payout, current ratio, return on investmen dan cyclicality),
variabel-variabel industri (jenis industri dan ukuran industri) serta variabel-variabel
makro ekonomi (kurs rupiah terhadap dollar dan PDB) baik secara bersama-sama
maupun parsial terhadap return dan beta saham syariah.
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Pasar Modal Syariah
Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dijalankan dengan konsep syariah,
di mana setiap perdagangan surat berharga mentaati ketentuan transaksi sesuai dengan
basis syariah. Pasar modal syariah tidak hanya ada dan berkembang di Indonesia tetapi
juga di negara-negara lain. Lembaga keuangan yang pertama kali menaruh perhatian di
dalam mengoperasikan portofolionya dengan manajemen portofolio syariah di pasar
K-AKPM 06
Page 4
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
4
modal syariah adalah Amanah Income Fund yang didirikan bulan Juni 1986 oleh para
anggota the North American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat.
Wacana mengenai pasar modal syariah ini disambut dengan antusias di seluruh belahan
bumi ini mulai dari kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika. Beberapa negara
yang proaktif dalam mengembangkan pasar modal yang berprinsipkan syariah dan
konsisten dalam menerapkan syariah Islam dalam sendi kehidupannya adalah Bahrain
Stock di Bahrain, Amman Financial Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock
Exchange di Kuwait dan Kuala Lumpur Stock Exchange di Malaysia.
Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia secara tidak langsung juga
dipengaruhi pasar modal yang berpegang pada konsep syariah yang terlebih dahulu
dijalankan oleh negara-negara lain. Pasar modal syariah di Indonesia diperkenalkan
pada bulan Juli 2000 ditandai dengan berdirinya Jakarta Islamic Index.
Instrumen Pasar Modal Syariah
Investasi keuangan syariah harus disertai dengan kegiatan sektor riil atau
transaksi yang mendasari (underlying transaction). Untuk itu, penciptaan instrumen
investasi syariah dalam pasar modal adalah dari sekuritasi aset/proyek (asset
securitisation) yang merupakan bukti penyertaan, sekuritasi utang (debt securitisation)
atau penerbitan surat utang yang timbul atas transaksi jual beli (al dayn) atau
merupakan sumber pendanaan bagi perusahaan, sekuritasi modal (equity securitisation),
merupakan emisi surat berharga oleh perusahaan emiten yang telah terdaftar dalam
pasar modal syariah dalam bentuk saham.
Adapun instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah dalam pasar perdana
adalah muqaradah/mudharabah funds, saham biasa (common stock),
muqaradah/mudharabah Bonds. Karena instrumen pasar modal tersebut
diperdagangkan di pasar perdana, maka prinsip dasar pasar perdana adalah semua efek
harus berbasis pada harta atau transaksi riil, tidak boleh menerbitkan efek utang untuk
membayar kembali utang (bay al dayn bi al dayn), dana atau hasil penjualan efek akan
diterima oleh perusahaan, hasil investasi akan diterima pemodal (shohibul maal), tidak
boleh memberikan jaminan hasil yang semata-mata merupakan fungsi dari waktu
(Harahap, 2001).
K-AKPM 06
Page 5
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
5
Sedangkan untuk pasar sekunder ada beberapa tambahan dari prinsip dasar pasar
perdana, yaitu tidak boleh membeli efek berbasis trend (indeks), suatu efek dapat
diperjualbelikan namun hasil (manfaat) yang diperoleh dari efek tersebut berupa kupon
atau deviden tidak boleh diperjual belikan, tidak boleh melakukan suatu transaksi
murabahah dengan menjadikan objek transaksi sebagai jaminan. Adapun jenis
instrument pasar modal yang jelas diharamkan syariah adalah preferred stock (saham
istimewa), forward contract, option.
Saham Syariah
Saham syariah merupakan salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki
karakteristik khusus berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan ruang lingkup
kegiatan usaha. Saham syariah dimasukkan dalam perhitungan Jakarta Islamic Index
(JII) merupakan indeks yang dikeluarkan oleh PT. Bursa Efek Jakarta yang merupakan
subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). JII diluncurkan pada tanggal 3 Juli
2000 dan menggunakan tahun 1 Januari 1995 sebagai base date dengan nilai 100. Bagi
perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks paling tidak mereka dinilai telah
memenuhi penyaringan syariah dan kriteria untuk indeks.
Penyaringan secara syariah yang difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional No.
20 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah. Kriteria untuk
indeks adalah Kapitalisasi pasar (market capitalization) dari saham dimana JII
menggunakan kapitalisasi pasar harian rata-rata selama satu tahun. Dari kedua penilaian
tersebut, untuk perusahaan emiten dapat digolongkan dalam daftar JII melalui prosedur
teknis, yaitu saham dari emiten dipilih yang tidak bertentangan dengan syariah dan telah
listing minimum 3 bulan, kecuali saham-saham tersebut termasuk 10 besar kapitalisasi
pasar. Saham dipilih dengan kapitalisasi pasar tertinggi sejumlah 60 saham. Saham
dipilih dengan nilai transaksi rata-rata tertinggi harian sejumlah 30 saham. Evaluasi
terhadap komponen indeks dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Tinjauan Peneliti Terdahulu
Penelitian-penelitian dengan obyek pasar modal syariah atau pasar modal yang
berpegang pada konsep syariah di Indonesia tidak banyak dilakukan. Begitu pula,
penelitian-penelitian yang menggunakan variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan ekonomi makro juga jarang dilakukan oleh beberapa peneliti dengan obyek
K-AKPM 06
Page 6
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
6
pasar modal syariah. Penelitian dengan obyek pasar modal syariah dilakukan oleh
Aruzzi dan Bandi (2003). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana variable tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan beta akuntansi dapat
mempengaruhi risiko sistematik atau beta saham syariah yang tergabung dalam Jakarta
Islamic Index (JII) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) secara bersama-sama ataupun secara
parsial pada periode pengamatan yang diambil dalam penelitian tersebut. Adapun obyek
yang diteliti adalah saham perusahaan yang termasuk ke dalam JII dalam periode
Januari 2001 – Desember 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-
sama maupun parsial variabel-variabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan beta
akuntansi tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap beta saham syariah.
Koefisien determinasi adalah sebesar 7,1% ini berarti variabel-variabel tingkat suku
bunga, rasio profitabilitas dan beta akuntansi hanya dapat menjelaskan beta saham
syariah sebesar 7,1%, sedangkan 92,9% dijelaskan oleh variabel-variabel lain.
Hamzah (2005) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
variabel-variabel makro ekonomi, industri dan karakteristik perusahaan terhadap beta
saham syariah. Obyek yang diteliti adalah saham perusahaan yang termasuk dalam JII
periode Januari 2001 samapai Desember 2004. jumlah sampel adalah sebanyak 120
perusahaan. Hasil pengujian dengan F-test menunjukkan bahwa variabel-variabel makro
ekonomi, industri dan karakteristik perusahaan mempunyai pengaruh secara signifikan
terhadap beta saham syariah. Nilai koefisien determinasi sebesar 51,8%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut dalam menjelaskan perubahan beta
saham syariah mempunyai hubungan dan pengaruh yang kuat. Hasil pengujian dengan
t-test menunjukkan pada variabel-variabel makro ekonomi seperti kurs rupiah terhadap
dollar dan Produk Domestik Bruto mempunyai pengaruh signifikan pada level 5%
terhadap beta saham syariah, sedangkan pada variabel-variabel industri tidak
mempunyai pengaruh signfikan terhadap beta saham syariah dan pada variabel-variabel
karakteristik perusahaan hanya leverage dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh
signifikan pada level 10% terhadap beta saham syariah.
Hipotesa Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan penelitian-penelitian terdahulu, maka dapat
diturunkan hipotesis sebagai berikut:
K-AKPM 06
Page 7
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
7
H
A1
: Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro ekonomi secara
bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap return saham syariah yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
H
A2
: Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro ekonomi secara
parsial berpengaruh secara signifikan terhadap return saham syariah yang terdaftar
di Bursa Efek Jakarta.
H
A3
: Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro ekonomi secara
bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham syariah yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
H
A4
: Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro ekonomi secara
parsial berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham syariah yang terdaftar
di Bursa Efek Jakarta.
METODOLOGI PENELITIAN
Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research) dengan
tujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan mengenai pengaruh variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri dan makro ekonomi sebagai variabel independent
terhadap return dan beta saham syariah sebagai variabel dependen. Ruang lingkup
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Fokus penelitian merupakan saham emiten yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
2. Obyek yang diteliti adalah saham perusahaan yang termasuk dalam Jakarta Islamic
Index (JII).
3. Periode yang diteliti dari Januari 2001 sampai Desember 2005.
4. Variabel dependen adalah return dan beta saham syariah.
5. Variabel independen adalah variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro.
Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Perusahaan yang
dijadikan sampel merupakan perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Saham emiten yang halal berdasarkan ketentuan syariah, kehalalan suatu saham
disahkan oleh Dewan Pengawas Syariah.
K-AKPM 06
Page 8
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
8
2. Saham-saham tersebut terdaftar di Jakarta Islamic Index.
3. Perusahaan masuk 30 besar dalam Jakarta Islamic Indeks minimal 3 kali dari
periode Januari 2001 sampai Desember 2005.
4. Perusahaan emiten menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode Januari
2001 sampai Desember 2005.
Data variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro
diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), Pusat Data Pasar Modal
di Fakultas Ekonomi, website mengenai pasar modal, Biro Pusat Statistik, Bank
Indonesia.
Variabel-variabel pada karakteristik perusahaan yang dijadikan penelitian ini
adalah earning per share, dividend payout, leverage, current ratio, return on investmen
dan cyclicality. Pengukuran pada variabel-variabel ini ditentukan berdasarkan nilai
dividen, hutang lancar, total hutang, aktiva lancar, total aktiva dan Produk Domestik
Bruto (PDB).
Variabel-variabel industri adalah jenis industri dan ukuran industri. Variabel
jenis industri dibedakan antara industri manufaktur dan non manufaktur. Untuk ukuran
industri digunakan nilai 0 untuk industri kecil dan 1 untuk industri besar yang
dikelompokkan berdasarkan nilai dari total aset perusahaan. Variabel-variabel ekonomi
makro adalah kurs rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik Bruto (PDB).
Pengukuran kurs mata uang ditentukan oleh Bank Indonesia. Untuk pengukuran PDB
diukur dari nilai seluruh output atau produk dalam perekonomian suatu negara. Nilai
PDB dihitung oleh pemerintah.
Pengukuran return saham syariah diukur dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut:
R
i
= (P
t
– P
t-1
) / P
t-1
Pengukuran Beta diukur menggunakan persamaan dari market model dengan
persamaan:
Ri = αi + βiRm + et,
K-AKPM 06
Page 9
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
9
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara
bersama-sama terhadap variabel dependen digunakan uji anova atau F-test. Untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara parsial terhadap
variabel dependent digunakan t-test. Sebelum melakukan pengujian dengan F-test dan t-
test maka dilakukan pengujian asumsi klasik berupa normalitas, autokorelasi,
multikolinealiritas dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian asumsi klasik pada variabel-
variabel penelitian menunjukkan bahwa variable-variabel dalam penelitian terbebas dari
asumsi klasik. Model pengujian variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro terhadap return dan beta saham syariah dapat ditunjukkan sebagai
berikut.
Karakteristik Perusahaan Return saham syariah
Industri Beta saham syariah
Ekonomi Makro
Variabel Independen Dependen Variabel
Sampel perusahaan yang diambil pada penelitian ini sebanyak 150 perusahaan
sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan selama periode Januari 2001
sampai Desember 2005. Analisis deskriptif dilakukan untuk menghitung nilai deviasi
standar, mean, maksimum dan minimum pada variabel independen dan variabel
dependen. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada masing-masing variabel
yang diteliti, maka diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam tabel 1 berikut ini.
Tabel 1.
Dalam model persamaan regresi ini, analisis regresi linear berganda menjelaskan
hubungan antara variabel dependen berupa return dan beta saham syariah dengan
variabel independen berupa variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro. Hasil pengujian regresi berganda antara variabel dependen dengan
variabel independen tercantum dalam tabel 2 berikut.
Tabel 2
K-AKPM 06
Page 10
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
10
Berdasarkan pada tabel 2 tersebut menunjukkan dari F-test yang telah dilakukan
untuk return saham syariah menghasilkan probabilitas signifikansi di atas 5% yaitu
sebesar 11,6% dan nilai F-hitung sebesar 1,589, sementara pada beta saham syariah
menghasilkan probabilitas signifikansi dibawah 5% yaitu sebesar 0% dan nilai F-hitung
sebesar 6,229. Dengan adanya hal itu, hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat pengaruh signifikan pada tingkat 5% secara bersama-sama dari variabel-
variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro terhadap return saham
syariah tetapi terdapat pengaruh signifikan pada tingkat 5% terhadap beta saham
syariah. Hasil pengujian ini tidak mendukung hipotesis H
A1
tetapi mendukung hipotesis
H
A3
. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa hubungan return dan risiko saham syariah
adalah saling berlawanan. Nilai adjusted R
2
pada return saham syariah sebesar 3,8%
dan pada beta saham syariah sebesar 26%. Ini berarti variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro hanya dapat menjelaskan sebesar 3,8% pada
return saham syariah, sedangkan 96,2% dijelaskan oleh variabel-variabel lain. Untuk
variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro hanya dapat
menjelaskan sebesar 26% pada beta saham syariah, sedangkan 74% dijelaskan oleh
variabel-variabel.
Pengujian analisis regresi parsial untuk menjelaskan hubungan antara satu
variabel dependen dengan satu variabel independen. Hasil dari regresi parsial tercantum
pada tabel 3. berikut.
Tabel 3.
Pada tabel 3. tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu pun variabel-variabel
yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham syariah, sedangkan
variabel-variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap beta saham syariah
adalah cyclicality, kurs rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik bruto (PDB).
Untuk pengujian secara parsial antara variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan ekonomi makro terhadap beta saham syariah mendukung penelitian yang
dilakukan oleh Hamzah (2005). Hasil ini juga menunjukkan bahwa tidak ada
konsekuensi ekonomi antara karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro.
Dengan kata lain hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Siegel (1991) serta Wasleys dan Linsmeier (1992) yang menyatakan adanya
K-AKPM 06
Page 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
11
konsekuensi ekonomi dengan adanya perubahan ekonomi makro maupun karakteristik
perusahaan.
KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengujian regresi secara linear berganda pada return saham syariah menghasilkan F
hitung sebesar 1,589 dengan tingkat signifikansi 11,6% dan pada beta saham syariah
menghasilkan F hitung sebesar 6,229 dengan tingkat signifikansi 0%. Hal ini berarti
variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro tidak
berpengaruh secara signifikan pada tingkat 5% terhadap return saham syariah tetapi
berpengaruh secara signifikan pada tingkat 5% terhadap beta saham syariah. Pengujian
regresi secara parsial dengan t test menunjukkan bahwa tidak ada satu pun variabel-
variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro berpengaruh secara
signifikan pada return saham syariah, sedangkan variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro terhadap beta saham saham yang mempunyai
pengaruh signifikan pad tingkat 5% adalah cyclicality, kurs rupiah terhadap dollar dan
Produk Domestik Bruto (PDB).
Keterbatasan
Penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain sebagai berikut:
1. Variabel-variabel industri dan ekonomi makro yang digunakan pada penelitian ini
hanya beberapa saja, masih ada variabel-variabel ekonomi makro dan industri yang
lain.
2. Sampel yang digunakan hanya 30 perusahaan.
3. Periode penelitian hanya 5 tahun dengan jumlah sampel yang sedikit karena
munculnya Jakarta Islamic Index yang juga masih relatif baru.
Saran-Saran
1. Bagi penelitian selanjutnya perlu menambah variabel-variabel ekonomi makro dan
industri atau menganti dan menambah variabel-variabel karakteristik perusahaan yang
lain yang dimungkinkan relevan dengan return dan beta saham syariah serta
menambah periode waktu penelitian
K-AKPM 06
Page 12
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
12
2. Bagi penelitian selanjutnya perlu dilakukan pengujian variabel-variabel makro
ekonomi, industri dan karakteristik perusahaan dengan return dan beta saham non
syariah serta menguji perbedaan antara return dan beta saham syariah dengan return
dan beta saham non syariah.
K-AKPM 06
Page 13
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
13
Daftar Pustaka
Achsien, H. Iggi. 2000., Investasi Syariah di Pasar Modal, Cetakan Pertama, PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Aruzzi, M. Iqbal, dan Bandi, 2003, Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Rasio Profitabilitas,
dan Beta Akuntansi Terhadap Beta Saham Syariah di Bursa Efek Jakarta,
Jurnal Simposium Nasional Akuntansi VI.
Beaver, William, Paul Kettler, dan Myron Scholes, 1970, The Association Between
Market Determined and Accounting Determined Risk Measure, The
Accounting Review 45, p. 654-682.
Bowman, Robert G., 1979., The Teoritical Relationship Between Systematic Risk and
Financial (Accounting) Variable, The Journal of Finance, Vol XXXIV,
No. 3, June, p. 617-630.
Chung, Kee H., 1989, The Impact of the Demand Volatility and Leverages on the
Systematic Risk of Common Stock, Journal of Business Finance &
Accounting, 16(3), Summer, p. 343-360.
Elton, Edwin J., and Gruber, Martin J. 1995, Modern Portfolio Theory and Investment
Analysis, 5th Ed., John Wiley & Sons.
Gudono dan Nurhayati, Nunik, 2001, The Association Between Market-Determined and
Accounting-Determined Risk Measures: Evidence from Indonesia, Jurnal
Riset Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi, Vol. 1 No.2, hal. 171-176.
Hamada, Robert S., 1972, The Effect of the Firm’s Capital Structure on the Systematic
Risk of Common Stocks, Journal of Finance, May, 435-451.
Harahap, Sofyan S, 2001, Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, Cetakan Pertama,
Pustaka Quantum.
Haroen, Nasrun, 2000, Perdagangan Saham di Bursa Efek, Tinjauan Hukum Islam,
Cetakan Pertama, Penerbit Yayasan Kalimah.
Husnan, Suad, 1994, Analisis Sekuritas di Pasar Modal Kecil: Pengamatan di Bursa
Efek Jakarta, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.9, No. 1.
Jogiyanto, 2000, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Cetakan Kedua, Badan
Penerbit Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.
Jones, Charles.P. 2004, Investments Analysis and Management, 9th edition, New York,
NY: John Wiley & Sons, Inc.
Kapoor, Ajai K dan Pope, Ralph A, 1997, The Relationship Between Corporate Debt
Issuance and Change in Systematic Risk, Journal of Financial and
Strategic Decision, Vol. 10, No.3, pp. 13-22.
Mahadwartha, Putu Anom, 2001, Analisis Ekonometri: Pengaruh Return, Volume
Transaksi dan Resiko Unik Saham Terhadap Beta Perusahaan pada
Industri Rokok, Jurnal Riset Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi, Vol. 1
No. 2, hal.171-176.
Miswanto, dan Husnan, Suad, 1999, The Effect of Operating Leverage, Cyclicality, and
Firm Size on Business Risk, Gadjah Mada International Journal of
Business, Vol. 1 No.1, pp. 29-43.
Natarsyah, Syahib, 2000, Analisa Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risiko
Sistematik Terhadap Harga Saham, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia,
Vol. 15, No. 3, hal. 294-312.
K-AKPM 06
Page 14
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
14
Setiawan, Doddy, 2004, Analisis Faktor-Faktor Fundamental yang Mempengaruhi
Risiko Sistematis Sebelim dan Selama Krisis Moneter, Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Indonesia, Vol. 19, No.3, hal. 224-237.
Siegel, Jeremy, J, 1991, Does It Pay Stock Investors to Forecast the Business Cycle?,
Journal of Portfolio Management, Vol.18 No.1.
Suciwati, Desak Putu dan Machfoedz Mas’ud, 2002, Pengaruh Risiko Nilai Tukar
Rupiah Terhadap Return Saham: Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEJ, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia,
Vol. 17No. 4, hal.347-360.
Sufiyati dan Na’im, Ainun, 1998, Pengaruh Leverage Operasi dan Leverage Finansial
Terhadap Risiko Sistematik Saham: Studi Pada Perusahaan Publik di
Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 13, hal. 57-69.
Sumodiningrat, Gunawan, 1994, Ekonometrika Pengantar, Edisi Pertama, Badan
Penerbit Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.
Tandelilin, Eduardus, 1997, Determinants of Systematic Risk: The Experience of Some
Indonesia Common Stock, Kelola, No. 16/IV, h. 101-114.
________________, 1997, A Comparison of Some Philippine and Indonesian Common
Stock s in Selected Financial Accounting Ratios and Securities Systematic
Risk, Kelola, No. 14, hal. 53-81.
________________, 2001, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, edisi
pertama., Badan Penerbit Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.
Wasley, Charles E dan Linsmeier, Thomas J, 1992, A Further Examination of The
Economic Consequences of SFAS No.2, Journal of Accounting Research
Vol. 30 No. 1.
K-AKPM 06
Page 15
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
15
Lampiran Tabel
Tabel 1. Deskriptif Statistik
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
Earnings Per Share
150 -2020.0000
1723.9600 199.472133
369.7147918
Dividend Payout Ratio
150
.0000
301.9500
25.230078
49.6729588
Leverage
150
.1000
21.4036
.667928
1.7185370
Cyclicality
150
.0036
.8569
.189524
.3350544
Current Ratio
150
.1949
16.9100
2.123076
1.9090589
Beta Pasar
150
-.8700
2.4300
.427802
.6877074
Kurs
150
8.5720
10.2660
9.287600
.5653019
Produk Domestik Bruto
150
4.2107
7.3677
5.439024
1.0915492
Return On Investment
150
-.3062
65.3817
.517565
5.3330044
Return
150
-.0769
.1273
-.003595
.0292990
Valid N (listwise)
150
Tabel 2. Hasil Pengujian Regresi Berganda
Variabel Independen
Variabel Dependen (Return)
Variabel Dependen (Beta)*
Karakteristik Perusahaan,
Industri dan Ekonomi Makro
F-hitung = 1,589
Sig. = 0,116
F-tabel = 1,92
Sig. = 0,05
F-hitung = 6,229
Sig. = 0,000
F-tabel = 1,92
Sig. = 0,05
Adjusted R
2
(return) = 0,038
Adjusted R
2
(beta) = 0,260
*signifikan pada α = 0,05
K-AKPM 06
Page 16
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006
16
Tabel 2. Hasil Pengujian Regresi Parsial
Variabel
Independen
Variabel Dependen (Return)
Variabel Dependen (Beta)
Koefisien
Koefisien
Konstanta
-0,219
t = -2,247
sig. = 0,026
9,422
t = 4,686
sig. = 0,000
Earnings Per Share -7,795.10
6
t = 1.142
sig. = 0,256
0,,000
t = -0,773
sig. = 0,441
Dividend Payout
Ratio
-2,416.10
6
t = 0,045
sig. = 0,964
0,000
t = -0,167
sig. = 0,868
Leverage
-2,811.10
5
t = 0,020
sig. = 0,984
-0,031
t = -1,080
sig. = 0,282
Cyclicality
-0,036
t = -1,407
sig. = 0,162
2,473
t = 4,751*
sig. = 0,000
Current Ratio
-0,003
t = -2,403
sig. = 0,018
-0.035
t = -1,343
sig. = 0,181
Return on
Investment
0,000
t = 0,244
sig. = 0,808
-0,002
t = -0,232
sig. = 0,817
Jenis Perusahaan
0,005
t = 0,891
sig. = 0,375
-0,014
t = -0,114
sig. = 0,910
Ukuran
Perusahaan
0,000
t = -0,065
sig. = 0,948
0,092
t = 0,829
sig. = 0,408
Kurs
0,017
t = 2,430
sig. = 0,016
-0,421
t = -3,010*
sig. = 0,003
Produk Domestik
Bruto
0,013
t = 1,590
sig. = 0,114
-1,001
t = -5,994*
sig. = 0,000
t-tabel = 1,980 ; sig. = 0,05
*signifikan pada α = 0,05
K-AKPM 06
Minggu, 28 Desember 2008
Senin, 01 Desember 2008
apsi dokument
“PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI MENUJU TERBENTUKNYA MASYARAKAT INFORMASI”
Filed under: Laen-laen
Banyak pakar menyepakati bahwa kehidupan manusia di muka bumi saat ini tengah berada dalam peralihan dari era industri ke era pasca-industri (post-industrial). Jika pada era industri, energi merupakan issue sentral, maka pada era pasca-industri, informasi merupakan issue sentral. Sebagaimana energi dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem transportasi, maka pertukaran informasi dilakukan melalui sistem komunikasi. Jika peristiwa jatuhnya bom atom (yang merupakan rekayasa energi yang canggih pada masanya) di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 merupakan peristiwa bersejarah yang menandai era industri, maka boleh dikatakan bahwa peristiwa WTC 911 tahun 2001 (yang sarat dengan rekayasa teknologi informasi) merupakan “pertanda jaman” dari era pasca-industri yang sering disebut juga sebagai era informasi (lihat Tabel 1).
Era PeradabanIssue SentralPeristiwa DahsyatPERTANIANLAHAN TANAMREVOLUSI SOSIAL dan KEMERDEKAANINDUSTRIENERGIHIROSHIMA NAGASAKIINFORMASIINFORMASIWTC 911Tabel 1Berbagai Pertanda Jaman
Dalam peristiwa WTC 911 dua tahun lalu itu kita menyaksikan bagaimana pesawat-pesawat dari penerbangan sipil komersial telah di-rekayasa dengan teknologi informasi yang sangat canggih menjadi peluru-peluru kendali yang secara akurat telah menghancurkan beberapa sasaran penting di Amerika Serikat, yang belum pernah sebelumnya tersentuh oleh serangan musuh dalam berbagai peperangan yang melibatkan Amerika Serikat.
Claude Shannon adalah seorang peneliti di Laboratorium Bell yang pada tahun 1948 berhasil menurunkan secara matematis Teori Informasi (Information Theory). Risalah berjudul “Mathematical Theory of Communication” setebal 55 (limapuluh lima) halaman yang ditulis oleh Shannon telah membuka jalan ke era informasi. Seorang pakar ilmu komunikasi bernama Everett M. Rogers menyebut Claude Shannon dan juga Norbert Wiener (bapak Cybernetics) dalam bukunya sebagai “the engineers of communication”. Rogers juga yang dalam buku yang sama men-definisikan masyarakat informasi sebagai masyarakat yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pekerja informasi, yang memperoleh nafkahnya dari mem-produksi, mengolah, menyebarkan informasi dan mem-produksi teknologi informasi. Dengan mengambil pengalaman Amerika Serikat yang sejarah komposisi tenaga kerjanya dapat dilihat pada Gambar 1, Rogers menggolongkan para peneliti, guru, dosen, manajer, sekretaris, wartawan, reporter, teknisi komputer, semua dalam kategori pekerja informasi yang diramalkan kelak akan memiliki peran dominan dan strategis dalam pembentukan masyarakat informasi.
1800- 18201820- 18401840- 18601860- 18801880- 19001900- 19201920- 19401940- 19601960- 1980Gambar 1Perubahan komposisi angkatan kerja di Amerika Serikat 1800-1980(Sumber: Everett M. Rogers, [1986], “Communication Technology”, hal. 11)
SISTEM INFORMASI
Ketika kami memperhatikan bagaimana pegawai-pegawai administrasi di kantor kami menyusun surat-surat rutin yang secara reguler dikirim, kami baru menyadari bahwa walau pun surat-surat itu diketik dengan peralatan canggih berupa komputer, tapi sesungguhnya sistem informasi yang digunakan masih merupakan sistem informasi berbasis manual. Kami melihat bahwa ketika akan dibuat surat yang sama, maka yang dilakukan adalah meng-copy surat yang lama, kemudian mem-paste-nya pada halaman berikutnya, mengganti nomer, tanggal dan beberapa point informasi yang berubah. Dengan demikian, ketika dalam seminggu misalnya ada 20 surat yang sama harus dikirimkan, yang dibuat oleh pegawai kami adalah satu file surat berisi 20 halaman, masing-masing halaman berisi surat yang sama persis, hanya nomer, tanggal dan beberapa informasi saja yang berbeda.
Melihat kenyataan di atas, kami menyadari bahwa bagi kebanyakan kita, komputer baru berfungsi sebagai mesin ketik yang lebih canggih, yang tidak memerlukan tenaga dalam menekan tuts-tuts keyboard-nya, tidak memerlukan kertas karbon untuk membuat rangkapannya dan tidak memerlukan tip-ex untuk menghapus kesalahan.
SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER
Sebagai suatu mesin pengolah data, komputer merupakan alat bantu yang tepat bila ada pekerjaan yang dilakukan secara berulang, yang tentunya akan membosankan bila dilakukan oleh manusia. Di kantor kami misalnya, menyusun surat pengantar bagi mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek adalah salah satu pekerjaan rutin yang selalu berulang. Dalam surat pengantar itu, yang berubah hanya nomer surat, tanggal, nama dan nomer stambuk mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek serta nama dan alamat perusahaan tujuan Kerja Praktek tersebut. Tentu saja akan menghabiskan waktu dan sangat membosankan bila surat seperti itu setiap kali harus diketik ulang. Demikian juga, pada hakekatnya sama saja dengan mengetik ulang sebenarnya jika surat tersebut setiap kali harus di-copy dan di-paste ke halaman baru. Jika sistem informasinya sudah benar-benar berbasis komputer, maka yang perlu diketik masuk hanya nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek saja. Nomer surat, tanggal, nama mahasiswa dan surat itu sendiri mestinya secara otomatis tinggal dicetak keluar setelah nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek diketik masuk dengan menggunakan satu form tertentu. Bukan itu saja, suatu sistem informasi yang benar-benar berbasis komputer mestinya bisa secara otomatis dapat mengeluarkan daftar surat pengantar Kerja Praktek yang sudah dikeluarkan, baik berdasarkan urutan nomer surat dan tanggal, atau berdasarkan nomer stambuk mahasiswa, misalnya.
Tentu saja banyak lagi dalam bidang administrasi yang bisa dibantu oleh komputer selain membuat surat. Semua pekerjaan yang secara rutin dilakukan berulang-ulang, semua pekerjaan yang memerlukan ingatan kuat dan kalkulasi yang akurat, pekerjaan-pekerjaan yang membosankan dan selalu membuka peluang kesalahan manusiawi, semua ini akan lebih mudah dan lebih sederhana jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Tapi, harus diingat bahwa tidak semua memang pekerjaan menjadi lebih baik dan lebih mudah jika dilaksanakan dengan bantuan komputer. Pekerjaan yang memerlukan tanggungjawab dan akuntabilitas tidak akan lebih baik jika diserahkan kepada komputer untuk mengerjakannya. Sebab komputer tidak bisa mempertanggung-jawabkan pekerjaan yang dilakukannya, komputer tidak bisa dimutasi, diberi sanksi atau diberhentikan dengan tidak hormat, komputer tidak bisa dihukum karena kesalahannya. Sebagai contoh misalnya ketika terjadi kesalahan atau gangguan pada sistem komputer suatu Bank sehingga terjadi kekacauan dalam pencatatan saldo rekening ATM (Automatic Teller Machine), maka komputer jelas tidak bisa mengganti uang nasabah yang hilang, atau uang Bank yang hilang, bahkan vendor yang men-supply peralatan komputer itu pun tidak bisa dituntut untuk mengganti uang yang hilang akibat kesalahan sistem. Perlu diingat bahwa tidak ada sistem komputer yang bebas kesalahan (error free), yang ada adalah sistem yang punya toleransi terhadap kesalahan (fault tolerant).
Saya teringat dengan instansi-instansi pelayanan publik seperti PT. PLN dan PDAM yang biasa menyalahkan komputer-nya jika terjadi kesalahan dalam pencatatan jumlah tagihan kepada pelanggan. Padahal semua orang tahu, bukanlah komputer yang mendatangi rumah-rumah pelanggan untuk mencatat meteran listrik dan meteran air, melainkan petugas. Kita semua tahu bahwa komputer hanya berfungsi sebagai alat bantu, ketika manusia terlalu lelah atau terlalu bosan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, maka bagian yang melelahkan dan membosankan dari pekerjaan itulah yang diserahkan kepada komputer, dengan tanggungjawab sepenuhnya tetap ada pada petugas atau pejabat yang menggunakan komputer tersebut. Kita semua mengenal konsep “garbage in - garbage out”, sampah dimasukkan ke komputer, sampah pula yang akan dihasilkannya!
Alangkah baiknya jika para penentu kebijakan dapat menimbang-nimbang dengan baik sebelum menerapkan otomatisasi atau komputerisasi di tempat pekerjaannya. Seyogyanya terlebih dahulu dipilah-pilah dengan cermat, mana bagian-bagian dari pekerjaan yang akan lebih cepat, lebih rapih, lebih teliti dan lebih akurat jika dikerjakan oleh tangan-tangan manusia yang trampil dan cekatan secara manual saja, dan mana pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Saya sendiri pernah mengalami dua jam menunggui seorang sekretaris di sebuah kantor instansi yang terpandang di Makassar ini mencoba membuat print-out alamat di atas amplop sebuah surat yang saya perlukan. Seandainya sang sekretaris menggunakan mesin ketik manual, mungkin dua menit saja sudah selesai, atau jika sang sekretaris mengenali fasilitas “Envelopes and Labels” yang ada dalam paket pengolah kata (Word Processor)-nya, tentu amplop itu selesai dalam bilangan detik saja. Tapi nyatanya saya telah menunggu amplop itu selesai tercetak selama dua jam. Untung ketika itu hujan deras di luar, dan kantor tempat sang sekretaris bekerja cukup nyaman untuk bersabar menunggu.
SISTEM INFORMASI BERBASIS JARINGAN KOMPUTER
Ketika kita melihat printer-printer di kantor mulai “berjalan-jalan” (maksudnya dipindah-pindahkan) dari satu komputer ke komputer lainnya, atau ketika diskette-diskette mulai sering keluar-masuk drive A komputer yang satu dan yang lain untuk memindah-mindahkan file-file, maka inilah sebagian dari tanda-tanda ada gejala kita perlu meningkatkan sistem informasi yang berbasis komputer menjadi sistem informasi berbasis jaringan komputer. Gejala lain adalah ketika mulai ada pegawai yang antri menunggu untuk menggunakan suatu komputer - sementara komputer lainnya menganggur tidak dipakai - dengan alasan file-file yang diperlukan atau perangkat lunak yang akan digunakan hanya ada di satu komputer dan tidak tersedia di komputer lainnya. Satu-satunya jalan keluar adalah membangun jaringan komputer sehingga dapat dilakukan penggunaan sumber-daya secara bersama atau “resource sharing”. Memang prinsip dasar dari pembangunan jaringan komputer adalah “resource sharing” ini, sehingga peralatan accessories seperti printer, modem, scanner dan lain-lain, juga file-file, database serta berbagai fasilitas perangkat lunak dapat dimanfaatkan secara bersama dari beberapa komputer yang berfungsi sebagai terminal atau work-station. Kebutuhan akan jaringan juga akan terasa ketika data yang semestinya semacam mulai terlihat beragam. Bank yang baik harus menggunakan sistem jaringan komputer, sebab tidak bisa saldo rekening nasabah misalnya ditampilkan berbeda di satu kantor cabang dengan kantor cabang yang lain, atau dari satu mesin ATM dengan mesin ATM yang lain. Demikian juga maskapai penerbangan yang baik mestinya menerapkan sistem jaringan dalam komputerasi data penumpang. Tidak boleh terjadi perbedaan daftar penumpang yang ada di kantor cabang dengan daftar penumpang yang ada di counter-nya di Bandara. Daftar mahasiswa peserta kuliah di sebuah perguruan tinggi, apalagi daftar nilai misalnya, tidak boleh lain di Jurusan, lain di Fakultas dan lain lagi di Biro Akademik di Universitas, seperti yang terjadi di tempat kami bekerja, akibat belum diterapkannya sistem jaringan komputer secara penuh.
ORGANISASI JARINGAN
Dikenal luas ada berbagai macam topologi jaringan. Ada yang membangun konfigurasi bus, ring, star, mesh, dan seterusnya, atau kombinasi dari berbagai konfigurasi tersebut seperti terlihat pada Gambar 2. Dalam organisasi model begini, hampir-hampir tidak dikenal adanya hierarkhi, dan sudah pasti tidak ada level-level. Semua konfigurasi jaringan umumnya terdiri dari 2 (dua) unsur, yaitu node (simpul) dan link yang menghubungkan node yang satu dengan yang lain. Tidak ada orientasi dan mobilitas vertikal (karena tidak ada level-level), yang ada biasanya hanya orientasi “to get things done”, atau selesainya pekerjaan yang dibebankan.
Arsitektur jaringan tidak hanya diterapkan pada organisasi manusia, melainkan juga pada berbagai sistem hasil rekayasa manusia, seperti jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, jaringan transportasi, jaringan komputer, Internet, dan lain sebagainya. Berbagai sistem organik pada makhluk hidup pun dipersepsi tersusun dalam struktur jaringan, seperti jaringan sel, jaringan saraf, jaringan pembuluh darah, dan masih banyak lagi.
Dalam pengorganisasian kegiatan-kegiatan kelompok manusia, struktur jaringan mulanya dikenal diterapkan pada kegiatan-kegiatan illegal yang berhubungan dengan kejahatan. Keluarga Mafia di Amerika Serikat, misalnya, walau pun diketahui umum mempunyai struktur hierarkhi yang kuat berdasarkan hubungan keluarga, tapi dalam operasi kejahatan (dan kebaikan juga) yang mereka lakukan, sepenuhnya ditunjang oleh sistem jaringan. Gerakan-gerakan politik bawah tanah, kegiatan terrorisme, spionase dan intelijen umumnya beroperasi dengan sistem jaringan. Baru akhir-akhir ini saja sistem jaringan di-adopsi untuk kegiatan-kegiatan legal dengan tujuan-tujuan kebaikan, seperti dalam dunia bisnis dikenal jaringan MLM (Multi-level Marketing, walau pun menggunakan istilah “level” tapi tidak sama pengertiannya dengan level-level struktural pada sistem organisasi konvensional), kegiatan-kegiatan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bahkan upaya pengentasan kemiskinan seperti proyek “Jaring Pengaman Sosial” (JPS) pada mulanya dikonsepkan untuk menerapkan sistem jaringan tapi kemudian terjebak dalam struktur birokrasi pemerintahan.
Peredaran NARKOBA, misalnya, jelas sekali meng-adopsi konsep jaringan, karena lebih andal dan sulit dibongkar. Mungkin pada suatu saat bisa ditangkap satu-dua node atau diputus satu dua link, tapi keseluruhan jaringan tetap beroperasi, node-node dan link-link baru dengan mudah dibentuk dan dioperasikan. Konsep jaringan juga memudahkan penyusupan ke seluruh lapisan masyarakat karena fleksibilitasnya. Siapa saja bisa jadi node atau link dari jaringan peredaran ini, kadang-kadang tanpa disadari atau pun disengaja. Misalnya kalau sejumlah “barang” (NARKOBA maksudnya) “dititipkan” pada tas penumpang pesawat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka penumpang pesawat tersebut telah menjadi link tanpa disadari.
MASALAH TERKINI
Berbicara mengenai perkembangan Teknologi Informasi dalam rangka membangun sistem informasi menuju terbentuknya masyarakat informasi, ada sedikitnya 2 (dua) masalah terkini (current issues) yang sedang ramai diperbincangkan dalam diskusi para pakar. Masalah pertama adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual (Copy Rights and Intellectual Property Rights), sedangkan yang kedua adalah masalah Teknologi Telekomunikasi Tanpa Kawat (Wireless Technology).
Masalah yang pertama terkait erat dengan masalah pembajakan perangkat-lunak (software) komputer yang merupakan dilemma yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat pengguna komputer di negera-negara miskin. Di satu sisi, masyarakat pengguna memang sangat memerlukan perangkat-perangkat lunak tersebut dalam rangka mengatasi masalah “digital divide” (kesenjangan pemanfaatan teknologi digital antara negara-negara maju yang mengusainya dengan negara-negara miskin yang memerlukannya). Di sisi lain harga jualnya di luar jangkauan daya beli mereka. Akhirnya maraklah pembajakan terhadap perangkat-perangkat lunak tertentu yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah pembajakan ini dalam koridor hukum formal umumnya menemui jalan buntu karena ke-tidak-siap-an baik perangkat-perangkat regulasi yang tersedia mau pun aparat penegak hukumnya sendiri. Kebuntuan ini kemudian mendorong dilakukan-nya upaya-upaya di luar jalur hukum, yang terkait erat dengan penyebaran virus. Baik fihak-fihak yang pro mau pun kontra terhadap penggunaan perangkat-perangkat lunak bajakan, kedua-duanya menyebarkan virus-virus komputer untuk mengganggu para pengguna perangkat-perangkat lunak tersebut. Contoh mutakhir adalah gangguan virus “WormBlaster” terhadap penggunaan perangkat-lunak Windows 2000 dan Windows-XP, yang sempat mengganggu operasi jaringan komputer di seluruh dunia. Jadi ada indikasi kuat bahwa akar permasalahan dari penyebaran virus-virus yang menghantui pengguna komputer di seluruh dunia adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual yang cenderung monopolistik dan eksploitatif dan cenderung mengarah kepada ke-tidak-adil-an yang tidak mendukung terciptanya masyarakat informasi global yang damai dan sejahtera. Oleh karenanya, patut didukung upaya-upaya penggunaan produk-produk perangkat lunak yang bersifat “freeware” dan “shareware”, yaitu dengan berpartisipasi aktif dalam promosi penggunaan perangkat lunak yang bersifat “open-source”, misalnya penggunaan sistem operasi berbasis LINUX.
Masalah yang kedua menyangkut perkembangan teknologi telekomunikasi tanpa kawat (wireless) yang didorong oleh penetrasi yang sangat cepat dari teknologi telpon seluler (cellular telephone technology) dan teknologi jaringan lokal tanpa kawat (wireless LAN). Integrasi total dari kedua teknologi ini akan segera menjadi kenyataan, sehingga kendala infrastruktur yang menghambat perkembangan jaringan komputer selama ini akan segera teratasi. Di sisi lainnya, berbagai masalah yang terkait dengan sistem telekomunikasi, seperti masalah regulasi, standarisasi, pemakaian lebar pita frekuensi (bandwidth) dan pengaturan penggunaan frekuensi radio (radio frequency allocation) akan menjadi masalah pula dalam pengembangan teknologi informasi.
Filed under: Laen-laen
Banyak pakar menyepakati bahwa kehidupan manusia di muka bumi saat ini tengah berada dalam peralihan dari era industri ke era pasca-industri (post-industrial). Jika pada era industri, energi merupakan issue sentral, maka pada era pasca-industri, informasi merupakan issue sentral. Sebagaimana energi dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem transportasi, maka pertukaran informasi dilakukan melalui sistem komunikasi. Jika peristiwa jatuhnya bom atom (yang merupakan rekayasa energi yang canggih pada masanya) di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 merupakan peristiwa bersejarah yang menandai era industri, maka boleh dikatakan bahwa peristiwa WTC 911 tahun 2001 (yang sarat dengan rekayasa teknologi informasi) merupakan “pertanda jaman” dari era pasca-industri yang sering disebut juga sebagai era informasi (lihat Tabel 1).
Era PeradabanIssue SentralPeristiwa DahsyatPERTANIANLAHAN TANAMREVOLUSI SOSIAL dan KEMERDEKAANINDUSTRIENERGIHIROSHIMA NAGASAKIINFORMASIINFORMASIWTC 911Tabel 1Berbagai Pertanda Jaman
Dalam peristiwa WTC 911 dua tahun lalu itu kita menyaksikan bagaimana pesawat-pesawat dari penerbangan sipil komersial telah di-rekayasa dengan teknologi informasi yang sangat canggih menjadi peluru-peluru kendali yang secara akurat telah menghancurkan beberapa sasaran penting di Amerika Serikat, yang belum pernah sebelumnya tersentuh oleh serangan musuh dalam berbagai peperangan yang melibatkan Amerika Serikat.
Claude Shannon adalah seorang peneliti di Laboratorium Bell yang pada tahun 1948 berhasil menurunkan secara matematis Teori Informasi (Information Theory). Risalah berjudul “Mathematical Theory of Communication” setebal 55 (limapuluh lima) halaman yang ditulis oleh Shannon telah membuka jalan ke era informasi. Seorang pakar ilmu komunikasi bernama Everett M. Rogers menyebut Claude Shannon dan juga Norbert Wiener (bapak Cybernetics) dalam bukunya sebagai “the engineers of communication”. Rogers juga yang dalam buku yang sama men-definisikan masyarakat informasi sebagai masyarakat yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pekerja informasi, yang memperoleh nafkahnya dari mem-produksi, mengolah, menyebarkan informasi dan mem-produksi teknologi informasi. Dengan mengambil pengalaman Amerika Serikat yang sejarah komposisi tenaga kerjanya dapat dilihat pada Gambar 1, Rogers menggolongkan para peneliti, guru, dosen, manajer, sekretaris, wartawan, reporter, teknisi komputer, semua dalam kategori pekerja informasi yang diramalkan kelak akan memiliki peran dominan dan strategis dalam pembentukan masyarakat informasi.
1800- 18201820- 18401840- 18601860- 18801880- 19001900- 19201920- 19401940- 19601960- 1980Gambar 1Perubahan komposisi angkatan kerja di Amerika Serikat 1800-1980(Sumber: Everett M. Rogers, [1986], “Communication Technology”, hal. 11)
SISTEM INFORMASI
Ketika kami memperhatikan bagaimana pegawai-pegawai administrasi di kantor kami menyusun surat-surat rutin yang secara reguler dikirim, kami baru menyadari bahwa walau pun surat-surat itu diketik dengan peralatan canggih berupa komputer, tapi sesungguhnya sistem informasi yang digunakan masih merupakan sistem informasi berbasis manual. Kami melihat bahwa ketika akan dibuat surat yang sama, maka yang dilakukan adalah meng-copy surat yang lama, kemudian mem-paste-nya pada halaman berikutnya, mengganti nomer, tanggal dan beberapa point informasi yang berubah. Dengan demikian, ketika dalam seminggu misalnya ada 20 surat yang sama harus dikirimkan, yang dibuat oleh pegawai kami adalah satu file surat berisi 20 halaman, masing-masing halaman berisi surat yang sama persis, hanya nomer, tanggal dan beberapa informasi saja yang berbeda.
Melihat kenyataan di atas, kami menyadari bahwa bagi kebanyakan kita, komputer baru berfungsi sebagai mesin ketik yang lebih canggih, yang tidak memerlukan tenaga dalam menekan tuts-tuts keyboard-nya, tidak memerlukan kertas karbon untuk membuat rangkapannya dan tidak memerlukan tip-ex untuk menghapus kesalahan.
SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER
Sebagai suatu mesin pengolah data, komputer merupakan alat bantu yang tepat bila ada pekerjaan yang dilakukan secara berulang, yang tentunya akan membosankan bila dilakukan oleh manusia. Di kantor kami misalnya, menyusun surat pengantar bagi mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek adalah salah satu pekerjaan rutin yang selalu berulang. Dalam surat pengantar itu, yang berubah hanya nomer surat, tanggal, nama dan nomer stambuk mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek serta nama dan alamat perusahaan tujuan Kerja Praktek tersebut. Tentu saja akan menghabiskan waktu dan sangat membosankan bila surat seperti itu setiap kali harus diketik ulang. Demikian juga, pada hakekatnya sama saja dengan mengetik ulang sebenarnya jika surat tersebut setiap kali harus di-copy dan di-paste ke halaman baru. Jika sistem informasinya sudah benar-benar berbasis komputer, maka yang perlu diketik masuk hanya nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek saja. Nomer surat, tanggal, nama mahasiswa dan surat itu sendiri mestinya secara otomatis tinggal dicetak keluar setelah nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek diketik masuk dengan menggunakan satu form tertentu. Bukan itu saja, suatu sistem informasi yang benar-benar berbasis komputer mestinya bisa secara otomatis dapat mengeluarkan daftar surat pengantar Kerja Praktek yang sudah dikeluarkan, baik berdasarkan urutan nomer surat dan tanggal, atau berdasarkan nomer stambuk mahasiswa, misalnya.
Tentu saja banyak lagi dalam bidang administrasi yang bisa dibantu oleh komputer selain membuat surat. Semua pekerjaan yang secara rutin dilakukan berulang-ulang, semua pekerjaan yang memerlukan ingatan kuat dan kalkulasi yang akurat, pekerjaan-pekerjaan yang membosankan dan selalu membuka peluang kesalahan manusiawi, semua ini akan lebih mudah dan lebih sederhana jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Tapi, harus diingat bahwa tidak semua memang pekerjaan menjadi lebih baik dan lebih mudah jika dilaksanakan dengan bantuan komputer. Pekerjaan yang memerlukan tanggungjawab dan akuntabilitas tidak akan lebih baik jika diserahkan kepada komputer untuk mengerjakannya. Sebab komputer tidak bisa mempertanggung-jawabkan pekerjaan yang dilakukannya, komputer tidak bisa dimutasi, diberi sanksi atau diberhentikan dengan tidak hormat, komputer tidak bisa dihukum karena kesalahannya. Sebagai contoh misalnya ketika terjadi kesalahan atau gangguan pada sistem komputer suatu Bank sehingga terjadi kekacauan dalam pencatatan saldo rekening ATM (Automatic Teller Machine), maka komputer jelas tidak bisa mengganti uang nasabah yang hilang, atau uang Bank yang hilang, bahkan vendor yang men-supply peralatan komputer itu pun tidak bisa dituntut untuk mengganti uang yang hilang akibat kesalahan sistem. Perlu diingat bahwa tidak ada sistem komputer yang bebas kesalahan (error free), yang ada adalah sistem yang punya toleransi terhadap kesalahan (fault tolerant).
Saya teringat dengan instansi-instansi pelayanan publik seperti PT. PLN dan PDAM yang biasa menyalahkan komputer-nya jika terjadi kesalahan dalam pencatatan jumlah tagihan kepada pelanggan. Padahal semua orang tahu, bukanlah komputer yang mendatangi rumah-rumah pelanggan untuk mencatat meteran listrik dan meteran air, melainkan petugas. Kita semua tahu bahwa komputer hanya berfungsi sebagai alat bantu, ketika manusia terlalu lelah atau terlalu bosan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, maka bagian yang melelahkan dan membosankan dari pekerjaan itulah yang diserahkan kepada komputer, dengan tanggungjawab sepenuhnya tetap ada pada petugas atau pejabat yang menggunakan komputer tersebut. Kita semua mengenal konsep “garbage in - garbage out”, sampah dimasukkan ke komputer, sampah pula yang akan dihasilkannya!
Alangkah baiknya jika para penentu kebijakan dapat menimbang-nimbang dengan baik sebelum menerapkan otomatisasi atau komputerisasi di tempat pekerjaannya. Seyogyanya terlebih dahulu dipilah-pilah dengan cermat, mana bagian-bagian dari pekerjaan yang akan lebih cepat, lebih rapih, lebih teliti dan lebih akurat jika dikerjakan oleh tangan-tangan manusia yang trampil dan cekatan secara manual saja, dan mana pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Saya sendiri pernah mengalami dua jam menunggui seorang sekretaris di sebuah kantor instansi yang terpandang di Makassar ini mencoba membuat print-out alamat di atas amplop sebuah surat yang saya perlukan. Seandainya sang sekretaris menggunakan mesin ketik manual, mungkin dua menit saja sudah selesai, atau jika sang sekretaris mengenali fasilitas “Envelopes and Labels” yang ada dalam paket pengolah kata (Word Processor)-nya, tentu amplop itu selesai dalam bilangan detik saja. Tapi nyatanya saya telah menunggu amplop itu selesai tercetak selama dua jam. Untung ketika itu hujan deras di luar, dan kantor tempat sang sekretaris bekerja cukup nyaman untuk bersabar menunggu.
SISTEM INFORMASI BERBASIS JARINGAN KOMPUTER
Ketika kita melihat printer-printer di kantor mulai “berjalan-jalan” (maksudnya dipindah-pindahkan) dari satu komputer ke komputer lainnya, atau ketika diskette-diskette mulai sering keluar-masuk drive A komputer yang satu dan yang lain untuk memindah-mindahkan file-file, maka inilah sebagian dari tanda-tanda ada gejala kita perlu meningkatkan sistem informasi yang berbasis komputer menjadi sistem informasi berbasis jaringan komputer. Gejala lain adalah ketika mulai ada pegawai yang antri menunggu untuk menggunakan suatu komputer - sementara komputer lainnya menganggur tidak dipakai - dengan alasan file-file yang diperlukan atau perangkat lunak yang akan digunakan hanya ada di satu komputer dan tidak tersedia di komputer lainnya. Satu-satunya jalan keluar adalah membangun jaringan komputer sehingga dapat dilakukan penggunaan sumber-daya secara bersama atau “resource sharing”. Memang prinsip dasar dari pembangunan jaringan komputer adalah “resource sharing” ini, sehingga peralatan accessories seperti printer, modem, scanner dan lain-lain, juga file-file, database serta berbagai fasilitas perangkat lunak dapat dimanfaatkan secara bersama dari beberapa komputer yang berfungsi sebagai terminal atau work-station. Kebutuhan akan jaringan juga akan terasa ketika data yang semestinya semacam mulai terlihat beragam. Bank yang baik harus menggunakan sistem jaringan komputer, sebab tidak bisa saldo rekening nasabah misalnya ditampilkan berbeda di satu kantor cabang dengan kantor cabang yang lain, atau dari satu mesin ATM dengan mesin ATM yang lain. Demikian juga maskapai penerbangan yang baik mestinya menerapkan sistem jaringan dalam komputerasi data penumpang. Tidak boleh terjadi perbedaan daftar penumpang yang ada di kantor cabang dengan daftar penumpang yang ada di counter-nya di Bandara. Daftar mahasiswa peserta kuliah di sebuah perguruan tinggi, apalagi daftar nilai misalnya, tidak boleh lain di Jurusan, lain di Fakultas dan lain lagi di Biro Akademik di Universitas, seperti yang terjadi di tempat kami bekerja, akibat belum diterapkannya sistem jaringan komputer secara penuh.
ORGANISASI JARINGAN
Dikenal luas ada berbagai macam topologi jaringan. Ada yang membangun konfigurasi bus, ring, star, mesh, dan seterusnya, atau kombinasi dari berbagai konfigurasi tersebut seperti terlihat pada Gambar 2. Dalam organisasi model begini, hampir-hampir tidak dikenal adanya hierarkhi, dan sudah pasti tidak ada level-level. Semua konfigurasi jaringan umumnya terdiri dari 2 (dua) unsur, yaitu node (simpul) dan link yang menghubungkan node yang satu dengan yang lain. Tidak ada orientasi dan mobilitas vertikal (karena tidak ada level-level), yang ada biasanya hanya orientasi “to get things done”, atau selesainya pekerjaan yang dibebankan.
Arsitektur jaringan tidak hanya diterapkan pada organisasi manusia, melainkan juga pada berbagai sistem hasil rekayasa manusia, seperti jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, jaringan transportasi, jaringan komputer, Internet, dan lain sebagainya. Berbagai sistem organik pada makhluk hidup pun dipersepsi tersusun dalam struktur jaringan, seperti jaringan sel, jaringan saraf, jaringan pembuluh darah, dan masih banyak lagi.
Dalam pengorganisasian kegiatan-kegiatan kelompok manusia, struktur jaringan mulanya dikenal diterapkan pada kegiatan-kegiatan illegal yang berhubungan dengan kejahatan. Keluarga Mafia di Amerika Serikat, misalnya, walau pun diketahui umum mempunyai struktur hierarkhi yang kuat berdasarkan hubungan keluarga, tapi dalam operasi kejahatan (dan kebaikan juga) yang mereka lakukan, sepenuhnya ditunjang oleh sistem jaringan. Gerakan-gerakan politik bawah tanah, kegiatan terrorisme, spionase dan intelijen umumnya beroperasi dengan sistem jaringan. Baru akhir-akhir ini saja sistem jaringan di-adopsi untuk kegiatan-kegiatan legal dengan tujuan-tujuan kebaikan, seperti dalam dunia bisnis dikenal jaringan MLM (Multi-level Marketing, walau pun menggunakan istilah “level” tapi tidak sama pengertiannya dengan level-level struktural pada sistem organisasi konvensional), kegiatan-kegiatan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bahkan upaya pengentasan kemiskinan seperti proyek “Jaring Pengaman Sosial” (JPS) pada mulanya dikonsepkan untuk menerapkan sistem jaringan tapi kemudian terjebak dalam struktur birokrasi pemerintahan.
Peredaran NARKOBA, misalnya, jelas sekali meng-adopsi konsep jaringan, karena lebih andal dan sulit dibongkar. Mungkin pada suatu saat bisa ditangkap satu-dua node atau diputus satu dua link, tapi keseluruhan jaringan tetap beroperasi, node-node dan link-link baru dengan mudah dibentuk dan dioperasikan. Konsep jaringan juga memudahkan penyusupan ke seluruh lapisan masyarakat karena fleksibilitasnya. Siapa saja bisa jadi node atau link dari jaringan peredaran ini, kadang-kadang tanpa disadari atau pun disengaja. Misalnya kalau sejumlah “barang” (NARKOBA maksudnya) “dititipkan” pada tas penumpang pesawat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka penumpang pesawat tersebut telah menjadi link tanpa disadari.
MASALAH TERKINI
Berbicara mengenai perkembangan Teknologi Informasi dalam rangka membangun sistem informasi menuju terbentuknya masyarakat informasi, ada sedikitnya 2 (dua) masalah terkini (current issues) yang sedang ramai diperbincangkan dalam diskusi para pakar. Masalah pertama adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual (Copy Rights and Intellectual Property Rights), sedangkan yang kedua adalah masalah Teknologi Telekomunikasi Tanpa Kawat (Wireless Technology).
Masalah yang pertama terkait erat dengan masalah pembajakan perangkat-lunak (software) komputer yang merupakan dilemma yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat pengguna komputer di negera-negara miskin. Di satu sisi, masyarakat pengguna memang sangat memerlukan perangkat-perangkat lunak tersebut dalam rangka mengatasi masalah “digital divide” (kesenjangan pemanfaatan teknologi digital antara negara-negara maju yang mengusainya dengan negara-negara miskin yang memerlukannya). Di sisi lain harga jualnya di luar jangkauan daya beli mereka. Akhirnya maraklah pembajakan terhadap perangkat-perangkat lunak tertentu yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah pembajakan ini dalam koridor hukum formal umumnya menemui jalan buntu karena ke-tidak-siap-an baik perangkat-perangkat regulasi yang tersedia mau pun aparat penegak hukumnya sendiri. Kebuntuan ini kemudian mendorong dilakukan-nya upaya-upaya di luar jalur hukum, yang terkait erat dengan penyebaran virus. Baik fihak-fihak yang pro mau pun kontra terhadap penggunaan perangkat-perangkat lunak bajakan, kedua-duanya menyebarkan virus-virus komputer untuk mengganggu para pengguna perangkat-perangkat lunak tersebut. Contoh mutakhir adalah gangguan virus “WormBlaster” terhadap penggunaan perangkat-lunak Windows 2000 dan Windows-XP, yang sempat mengganggu operasi jaringan komputer di seluruh dunia. Jadi ada indikasi kuat bahwa akar permasalahan dari penyebaran virus-virus yang menghantui pengguna komputer di seluruh dunia adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual yang cenderung monopolistik dan eksploitatif dan cenderung mengarah kepada ke-tidak-adil-an yang tidak mendukung terciptanya masyarakat informasi global yang damai dan sejahtera. Oleh karenanya, patut didukung upaya-upaya penggunaan produk-produk perangkat lunak yang bersifat “freeware” dan “shareware”, yaitu dengan berpartisipasi aktif dalam promosi penggunaan perangkat lunak yang bersifat “open-source”, misalnya penggunaan sistem operasi berbasis LINUX.
Masalah yang kedua menyangkut perkembangan teknologi telekomunikasi tanpa kawat (wireless) yang didorong oleh penetrasi yang sangat cepat dari teknologi telpon seluler (cellular telephone technology) dan teknologi jaringan lokal tanpa kawat (wireless LAN). Integrasi total dari kedua teknologi ini akan segera menjadi kenyataan, sehingga kendala infrastruktur yang menghambat perkembangan jaringan komputer selama ini akan segera teratasi. Di sisi lainnya, berbagai masalah yang terkait dengan sistem telekomunikasi, seperti masalah regulasi, standarisasi, pemakaian lebar pita frekuensi (bandwidth) dan pengaturan penggunaan frekuensi radio (radio frequency allocation) akan menjadi masalah pula dalam pengembangan teknologi informasi.
Senin, 08 September 2008
Jesus Christ.............................:""
seperti Coca_Cola.......... ada kapan saja dimana aja!!!!!!
seperti Rexona............... setia setiap saat..
seperti SoKlin................. bersihkan Noda.
seperti Sprite................. Dia tau yang kita mau!!
seperti Sony................... like no others............
Rela membebaskan kita,, dari belenggu dosa yang berlapis!
Dia menggapai kita, mengiringi kita, menghapus kesalahan kita, mengerti keinginan kita,
hanya Dia yang ada di sana...... Jesus.........
seperti Coca_Cola.......... ada kapan saja dimana aja!!!!!!
seperti Rexona............... setia setiap saat..
seperti SoKlin................. bersihkan Noda.
seperti Sprite................. Dia tau yang kita mau!!
seperti Sony................... like no others............
Rela membebaskan kita,, dari belenggu dosa yang berlapis!
Dia menggapai kita, mengiringi kita, menghapus kesalahan kita, mengerti keinginan kita,
hanya Dia yang ada di sana...... Jesus.........
Langganan:
Postingan (Atom)
